Cuma Diatas Etiopia dan Bangladesh,  Indonesia Masuk dalam 5 Negara Terburuk Penanganan COVID-19

Cuma Diatas Etiopia dan Bangladesh,  Indonesia Masuk dalam 5 Negara Terburuk Penanganan COVID-19
Ilustrasi virus corona. (YONHAP / AFP)

RIAUSKY.COM - Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, yakni sebanyak 270 juta jiwa, Indonesia hanya mampu melakukan pengetesan pandemi COVID-19 terhadap 65 orang setiap satu juta orang per tanggal 11 April 2020. 

Hasil yang diungkapkan oleh salah satu situs pandemi, Worldometer, ini menempatkan Indonesia menjadi negara terburuk kelima dalam penanganan COVID-19 di antara negara dengan populasi lebih dari 50 juta jiwa.

Dilansir dari Worldometer, tes corona di Indonesia hanya lebih unggul dari Nigeria dengan 24 orang, Myanmar dengan 26 orang, Etiopia dengan 28 orang, dan Bangladesh dengan 45 orang setiap 1 juta jiwa. Sedangkan di saat yang sama, Korea Selatan telah mengetes 9.812 orang, Singapura telah mengetes 12.423, dan Malaysia telah mengetes 2.153 orang setiap 1 juta orang.

Dilansir dari The Straits Times pada Senin (6/4), juru bicara pemerintah dalam mengatasi pandemi COVID-19, Achmad Yurianto, menjelaskan bahwa pemerintah RI tidak melakukan tes berdasarkan jumlah populasi. Tes dilakukan berdasarkan pada pelacakan kontak dari kasus pasien yang dinyatakan positif dan berdasarkan pada kunjungan ke berbagai fasilitas kesehatan yang dilakukan oleh orang dengan gejala positif COVID-19.

Achmad juga menambahkan bahwa pemerintah Indonesia terus melakukan rapid tests. Namun, hasil tes tersebut-termasuk jumlah kasus yang terkonfirmasi positif-tidak dimasukkan ke dalam perhitungan data COVID-19 nasional. 

Hal tersebut dilakukan karena rapid tests tidak dapat diandalkan seperti tes PCR (Polymerase Chain Reachtion). Rapid test hanya digunakan untuk membantu “screening” awal dari orang yang mungkin tertular COVID-19.

Setiap orang yang sudah terkonfirmasi negatif dari hasil rapid test harus mengulang kembali prosedur setelah jangka waktu tertentu. Namun ketika dalam rapid test seseorang dinyatakan positif COVID-19, orang tersebut harus dites dan dikonfirmasi lagi oleh tes PCR.

Sementara itu, untuk melakukan tes masif yang diharapkan, pemerintah Indonesia melalaui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mendatangkan alat laboratorium tes PCR (Polymerase Chain Reaction) dari Roche, Swiss. Alat tersebut bisa digunakan untuk melakukan tes COVID-19 dengan kapasitas hingga 10 ribu per hari.

Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Mahendra Sinulingga, mengatakan bahwa terdapat dua unit PCR yang memiliki alat RNA extractor otomatis dengan kemampuan 10.000 tes per hari dan ada juga alat yang berkapasitas melakukan 500 tes per hari.

"Kalau alat ini sudah terinstal semua bisa tercapai 8.000 hingga 10.000 tes per hari. Jadi, dalam sebulan kita bisa tes 300 ribu orang," ujar Arya dalam konferensi pers di BNPB, Rabu (8/4).

Alat tersebut nantinya akan didistribusikan ke beberapa provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimatan Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua. Sementara untuk di DKI Jakarta, Arya menuturkan setidaknya alat tes lab PCR bisa digunakan setidaknya dalam dua pekan ke depan. (R01)

Sumber: Akurat.co

Listrik Indonesia

Berita Lainnya

Index
Jasa Press Release Jasa Backlink Media Nasional